
Kutai Timur – Kasus HIV di Kabupaten Kutai Timur kembali menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kutim, Sumarno, menyebutkan bahwa penanganan HIV memerlukan strategi khusus karena sifatnya yang sulit terdeteksi secara terbuka.
Ia menggambarkan HIV sebagai “gunung es”, di mana kasus yang tercatat hanyalah sebagian dari kondisi yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Menurut Sumarno, jumlah pasien HIV yang terdata saat ini sudah berada di angka lebih dari seratus kasus. Namun angka tersebut tidak dapat dijadikan gambaran pasti karena banyak penderita yang enggan memeriksakan diri atau menjaga kerahasiaan kondisi kesehatan mereka.
“HIV ini sangat terkait privasi. Tidak semua orang mau memeriksakan diri, bahkan yang sudah positif pun sering tidak ingin memberi tahu keluarga,” ujarnya.
Untuk mengejar target nasional eliminasi HIV pada 2030, Dinas Kesehatan Kutim memperkuat sejumlah langkah strategis. Salah satunya dengan menerjunkan penyuluh HIV ke sekolah-sekolah dan komunitas berisiko tinggi. Upaya ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman remaja dan kelompok rentan agar lebih sadar risiko serta pentingnya pemeriksaan dini.
“Kami ingin memastikan generasi muda tidak terjerat perilaku berisiko. Edukasi harus masuk sedini mungkin,” tegas Sumarno.
Selain edukasi, layanan pemeriksaan dan pengobatan juga diperluas agar penderita dapat segera mendapatkan terapi yang dapat menekan perkembangan virus. Sumarno mengingatkan bahwa deteksi dan pengobatan dini sangat menentukan kualitas hidup penderita.
Ia berharap masyarakat lebih terbuka dan tidak lagi memandang HIV sebagai stigma sosial.
“Yang terpenting adalah kesadaran. Kalau semua mau periksa, kita bisa memutus rantai penularan lebih cepat,” tutupnya.ADV
![]()
