
Kutai Timur – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus memperkuat strategi penurunan stunting melalui pola kerja kolaboratif berbasis data dan kemitraan.
Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi, mengungkapkan bahwa pihaknya kini memadukan tiga elemen utama yang saling melengkapi, yaitu data akurat dari Tim Pendamping Keluarga (TPK), dukungan pembiayaan melalui dana RT, serta keterlibatan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan.
“Kalau data TPK sudah jelas, dana RT bisa diarahkan tepat, dan CSR ikut berkontribusi, maka program penanganan stunting akan jauh lebih cepat terasa hasilnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, TPK selama ini menjadi garda terdepan dalam mendeteksi dan mendampingi keluarga berisiko stunting. Informasi lapangan mengenai gizi, kesehatan ibu hamil, hingga tumbuh kembang balita menjadi dasar perencanaan intervensi.
Sementara itu, dana RT dapat menjadi sumber dukungan untuk pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan tambahan maupun perbaikan sanitasi. Sedangkan CSR perusahaan hadir sebagai penguatan dana dan program, khususnya pada wilayah yang membutuhkan sarana kesehatan atau edukasi gizi lebih intensif.
“PLKB dan TPK terus kami latih agar mampu mengarahkan masyarakat pada perilaku hidup sehat,” jelasnya.
Menurut Junaidi, keberhasilan menekan angka stunting tidak hanya diukur dari berkurangnya kasus, tetapi juga dari meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya asupan gizi, pola makan seimbang, dan sanitasi yang baik. Karena itu, program edukasi keluarga menjadi salah satu titik fokus yang terus diperkuat.
Ia optimistis bahwa pola kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan perusahaan dapat menjadi model penanganan stunting berkelanjutan di Kutim. Dengan kerja yang terstruktur dan dukungan berbagai pihak, ia berharap angka stunting semakin menurun dari tahun ke tahun.ADV
![]()
