
Satukata.co, Samarinda – Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Anhar, meminta Pemerintah Kota tidak hanya membanggakan kemajuan sekolah di pusat kota, tetapi melupakan kesenjangan infrastruktur di kawasan pinggiran.
Karena, kini Kota Samarinda yang mendahulukan transformasi pendidikan berbasis digital, nyatanya Anhar menilai masih jauh dari kata ideal.
Menurut Anhar, potret pendidikan Samarinda tidak bisa hanya diukur dari keberhasilan SMP Negeri 50 Terpadu di Jalan Kemuning yang dinilainya memang sudah sangat luar biasa.
Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa banyak sekolah di kawasan pinggiran yang bahkan masih berjuang mendapatkan akses sinyal internet dasar.
“Bagaimana mau bicara pendidikan berbasis digitalisasi kalau di daerah pinggiran seperti Bukuan, Rawa Makmur, Palaran, Loa Bakung, Tanah Merah, hingga Sambutan masih terkendala akses internet?” ujar Anhar mempertanyakan.
Ia mengingatkan bahwa Samarinda berstatus sebagai Ibu Kota Provinsi Kalimantan Timur dengan kekuatan APBD yang besar, yakni Rp5,1 triliun pada tahun 2025 dan telah ditetapkan sebesar Rp3,183 triliun untuk tahun anggaran 2026.
Dengan tren anggaran triliunan rupiah tiap tahunnya, pemerataan infrastruktur fisik maupun jaringan telekomunikasi seharusnya bisa segera dituntaskan.
“Samarinda ini kota, bukan kabupaten. Tidak ada lagi desa atau kampung di sini, semuanya sudah kelurahan. Pemkot harus bekerja ekstra keras memenuhi pemerataan bangunan fisiknya, tenaga didiknya, hingga fasilitas pendukung (internet). Jangan sampai ada warga yang merasa dianaktirikan hanya karena tinggal di pinggiran,” pungkasnya. (Adv/(MF)
