
Satukata.co, Samarinda – Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Novan Syahronny Pasie, menyoroti kendala krusial di sektor pendidikan kota Samarinda, khususnya terkait defisit tenaga pengajar yang berimbas pada penurunan kualitas mata pelajaran dasar.
Ia mendesak Kementerian Pendidikan untuk tidak sekadar melihat masalah dari kacamata statistik nasional, melainkan turun tangan menyelesaikan hambatan regulasi di daerah.
Menurut Novan, fenomena penurunan kualitas pada pelajaran esensial seperti matematika dan bahasa asing bukanlah masalah kurikulum, melainkan krisis sumber daya manusia (SDM).
”Matematika dan bahasa asing itu kurikulum dasar yang sudah dipelajari puluhan tahun lalu dan formatnya tetap sama. Fenomena penurunan ini akibat apa? Tolong diperhatikan, tenaga pengajarnya ada atau tidak? Kita di daerah terus terkendala oleh regulasi pemerintah pusat terkait perekrutan,” tegas Novan.
Novan memaparkan data yang cukup memprihatinkan. Saat ini, Kota Samarinda kekurangan lebih dari 500 guru.
Angka krisis tenaga pengajar ini bahkan diprediksi akan melonjak hingga lebih dari 700 orang pada Desember mendatang. Di sisi lain, kuota penambahan guru dari jalur CPNS hanya berkisar 260 orang.
Menghadapi ketimpangan tersebut, Pemerintah Kota Samarinda sempat mengajukan opsi perekrutan melalui metode Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP), namun kepastiannya masih mengambang.
Akibat mandeknya regulasi pusat terkait honorer, sekolah-sekolah di Samarinda terpaksa mengambil langkah darurat dengan merekrut guru lepas.
”Langkah sekolah saat ini hanya bisa merekrut guru lepas yang dibayar melalui dana BOSNAS maupun BOSDA. Namun, jika bicara kompetensinya tentu belum bisa dipastikan maksimal, karena mereka pun digaji di bawah standar. Ini yang butuh review serius dari pusat,” pungkasnya. (Adv/MF)
